MITRAPOLISINEWS | PEMATANGSIANTAR - Tidak semua bangunan lahir dari semen, pasir dan batu bata. Ada bangunan yang justru bermula dari sebuah nazar, tumbuh dari niat untuk berbagi, kemudian menjelma menjadi tempat tumbuhnya harapan bagi banyak anak.
Itulah yang tergambar dari Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah. Rumah tahfidz ini bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi menjadi ruang untuk menanamkan kecintaan terhadap Kalamullah melalui proses membaca, menghafal, memahami hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik berdirinya Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah, terdapat sosok seorang ibu dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Ia adalah AKP Friska Susana, seorang ibu dari empat orang anak yang juga mengemban amanah sebagai Kasat Lantas Polresta Pematangsiantar.
Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai aparat kepolisian, mengatur lalu lintas dan menghadapi berbagai dinamika di lapangan, Friska menyimpan kepedulian yang lebih luas. Bukan hanya bagaimana mengatur lalu lintas kendaraan di jalan raya, tetapi juga bagaimana membuka jalan bagi anak-anak untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Dari niat itulah, Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah hadir.
Nama Aliyah sendiri memiliki makna yang tinggi dan mulia. Sebuah nama yang seolah menggambarkan harapan agar tempat tersebut menjadi jalan bagi anak-anak untuk tumbuh dengan nilai-nilai Al-Qur’an, memiliki akhlak yang baik, serta membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Kini, nazar itu bukan lagi sekadar niat.
Sebanyak 41 santri telah menjadi bagian dari Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah. Empat puluh satu anak, empat puluh satu harapan, dan empat puluh satu cahaya kecil yang setiap hari berusaha didekatkan kepada Al-Qur’an.
Kegiatan belajar berlangsung setiap hari mulai pukul 14.30 hingga 18.00 WIB. Di saat sebagian anak seusia mereka mungkin menghabiskan waktu dengan bermain atau menggunakan gawai, para santri Aliyah memilih duduk bersama mushaf, melafalkan ayat demi ayat dan berusaha menyimpannya di dalam hati.
Suasana belajar pun tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal.
Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah menerapkan proses pembelajaran melalui empat tahapan, yakni membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan.
Membaca menjadi pintu pertama untuk mengenal Kalamullah. Menghafal menjadi proses menanamkan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam ingatan dan hati. Memahami menjadi langkah untuk menangkap pesan yang terkandung di dalamnya. Sedangkan mengamalkan menjadi tujuan akhir, agar ayat yang dipelajari tidak berhenti di lisan, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Sebab, menghafal Al-Qur’an bukan semata-mata tentang seberapa banyak ayat yang mampu diingat. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan.
Kehadiran Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah juga memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat hadir dalam berbagai bentuk.
Seorang ibu dengan empat anak, di tengah tanggung jawabnya sebagai seorang perwira kepolisian, masih menyisihkan perhatian dan kepeduliannya untuk anak-anak yang ingin belajar Al-Qur’an.
Seragam kepolisian tidak menjadi penghalang untuk berbagi. Kesibukan menjalankan tugas tidak membuat kepedulian terhadap pendidikan agama harus terhenti.
Justru dari ruang itulah lahir sebuah pengabdian yang mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi dampaknya dapat tumbuh jauh melampaui batas waktu.
Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dibangun dengan niat baik dapat menghadirkan manfaat bagi banyak orang.
Hari ini mungkin yang terlihat hanya 41 santri yang duduk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Namun siapa yang tahu, beberapa tahun mendatang, dari tempat sederhana itu akan lahir generasi yang menjadi guru, pemimpin, ulama, orang tua, atau siapa pun yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke tengah masyarakat.
Nazar yang dahulu mungkin hanya tersimpan di dalam hati, kini telah menjadi nyata.
Ia menjadi ruang belajar.
Ia menjadi tempat anak-anak mengenal Al-Qur’an.
Dan yang paling penting, ia menjadi cahaya.
Sebab setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca, setiap ayat yang dihafalkan, setiap makna yang dipahami dan setiap kebaikan yang diamalkan para santri, akan menjadi bagian dari jejak kebaikan yang terus mengalir.
Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah bangunan atau kegiatan belajar mengaji.
Ia adalah tentang niat yang diwujudkan menjadi pengabdian, nazar yang berubah menjadi manfaat, dan kepedulian yang ditanam hari ini untuk dipetik generasi di masa depan.
Dari sebuah nazar, lahirlah cahaya.
Dan di Rumah Tahfidz Qur’an Aliyah, cahaya itu kini tumbuh bersama 41 santri penjaga Kalamullah.
(Red)



