• Jelajahi

    Copyright © MITRA POLISI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


     

    Author Details

    Ironi di Balik Rekor 51 Ribu TEUs BNCT: Alat Rusak, Dermaga Kupak Kapik, Sopir Ngamuk, dan Nasib Pekerja yang Terabaikan, Bahkan Kekurangan Jumlah Pekerja di Paksa Menambah Jam Kerja Wajib (Optimal)

    garda network International
    Februari 28, 2026, Februari 28, 2026 WIB Last Updated 2026-02-28T15:03:09Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Ironi di Balik Rekor 51 Ribu TEUs BNCT: Alat Rusak, Dermaga Kupak Kapik, Sopir Ngamuk, dan Nasib Pekerja yang Terabaikan, Bahkan Kekurangan Jumlah Pekerja di Paksa Menambah Jam Kerja Wajib (Optimal)






    BELAWAN– PT Belawan New Container Terminal (BNCT) baru saja mempublikasikan capaian impresif arus petikemas sebesar 51.419 TEUs pada Januari 2026—meningkat 5,9% dibandingkan tahun lalu. Namun, di balik angka-angka mengkilap tersebut, tersimpan realitas kelam mengenai kondisi kerja yang memprihatinkan, infrastruktur yang dibiarkan hancur, dan ketidakadilan bagi ratusan pekerja.*



    *Operasional Lumpuh Akibat Alat yang "Dianaktirikan"*
    Meskipun arus petikemas mendekati target bulanan perusahaan sebesar 52.227 TEUs, fasilitas penunjang operasional di Terminal Petikemas Internasional Belawan justru dilaporkan sering dibiar kan dalam kondisi rusak selama bertahun-tahun, hingga ada yang terbakar dan membahayakan operator serta pekerja di dekat nya. Akibatnya, efisiensi pelayanan merosot tajam.



    Kondisi ini memicu gejolak hebat di kawasan pelabuhan. Antrean panjang truk kontainer yang tertahan berjam-jam sering kali berujung pada bentrokan fisik antara sopir truk eksternal dengan pekerja internal.



    "Kami sering menjadi sasaran kemarahan sopir karena pelayanan lambat akibat alat rusak. Padahal kami sudah bekerja maksimal, tapi manajemen membiarkan peralatan operasional hancur tanpa perbaikan," ujar salah satu sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.



    *Kesejahteraan PKWT:* Kontribusi Besar, Apresiasi Nihil
    Ironi terbesar muncul dari sisi kemanusiaan. Ratusan pekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang telah mengabdi bertahun-tahun merasa hak dan kesejahteraan mereka diacuhkan oleh manajemen BNCT. Di saat perusahaan merayakan pertumbuhan laba dan volume, para pekerja ini justru menghadapi risiko keselamatan kerja (K3) yang tinggi tanpa kompensasi yang layak.



    Upaya para pekerja untuk memberikan masukan dan usulan demi perbaikan pelayanan justru direspon dengan tindakan otoriter. Alih-alih mendapatkan ruang dialog, *pekerja yang bersuara tegas sering kali dianggap sebagai "Musuh Perusahaan"* dan berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak.



    Manajemen Otoriter dan Masa Depan Logistik Sumatera
    Kritik tajam kini mengarah pada gaya kepemimpinan manajemen BNCT yang dinilai hanya mengejar target angka di atas kertas tanpa mempedulikan stabilitas sosial dan teknis di lapangan. Jika pembiaran terhadap kerusakan alat dan penindasan terhadap hak pekerja terus berlanjut, diprediksi akan terjadi gangguan logistik yang lebih masif di wilayah Sumatera Utara.



    Masyarakat dan para pelaku usaha transportasi kini mendesak adanya audit menyeluruh terhadap manajemen BNCT. Pertumbuhan 5,9% tidak boleh dibayar dengan darah, keringat, dan ketidakadilan bagi para pekerja yang menjadi ujung tombak operasional pelabuhan.

    Hingga berita ini di publikasikan belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.


    (Tim)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini